Another home sweet home

Karena tidak ada tempat senyaman rumah

Racau



Seorang menasihatiku nasihat yang sama seperti ratusan orang lain saat ia tahu aku baru saja patah hati. Ia menasihatiku untuk segera pindah, membuka hati yang baru, mencari lelaki lain yang katanya pasti akan lebih baik dari mantan kekasihku. Bahkan ketika kukatakan bahwa aku dan mantan kekasihku berpisah karena keadaan bukan karena kesalahan, ia tetap tak peduli. Katanya, aku berhak bahagia. Aku pantas mendapatkan yang lebih baik dari mantan kekasihku. Aku hanya tersenyum tipis.

Sudah puluhan bulan aku memilih sendirian. Semakin banyak mata yang memandangku kasihan ketika kukatakan bahwa aku sendirian. Katanya mereka prihatin dengan umurku. Katanya mereka sedih melihat aku yang kesepian. Katanya aku harus segera mencari pendamping hidup baru. Katanya aku harus bisa menerima kenyataan. Katanya mereka berbicara begitu karena di umurku sekarang, aku seharusnya sudah memiliki dua anak yang lucu dan menggemaskan. Aku hanya tertawa kosong.

Bukan sekali dua kali, mereka yang menganggap diri mereka mengenalku dekat, menyuruhku untuk menerima hati-hati baru. Beberapa bahkan menyuruhku untuk menikah dengan tuan ini atau tuan itu. Katanya mereka baik. Katanya mereka penyayang. Katanya mereka mapan. Katanya mereka cerdas. Katanya mereka lebih baik dari mantan kekasihku yang saat ini sudah memiliki hidup baru dengan kekasih barunya. Aku hanya tersenyum getir.

Berkali-kali sudah kukatakan pada mereka bahwa untukku pernikahan bukanlah tujuan. Kukatakan bahwa aku sangat berhati-hati dalam memilih pasangan. Lalu mereka mencibirku. Katanya aku terlalu pemilih. Katanya aku jual mahal. Katanya aku penakut. Katanya aku pengecut. Aku hanya tertawa pahit.

Kukira, orang-orang yang katanya mereka mencintaiku itu (paling tidak) tahu bahwa setiap orang bisa saja memiliki bahagia yang berbeda dengan apa yang mereka pahami. Meski pada akhirnya aku sendiri menyadari bahwa mengetahui sesuatu tidak menjamin seseorang akan mengerti dan berhenti memaksakan apa yang kebahagiaan versinya pada orang lain. Hanya karena hal itu bisa membuatnya bahagia, ia merasa hal itu juga pasti akan membuat orang lain bahagia.

Untukku, mencintainya adalah anugerah. Aku memilihnya untuk menjadi satu yang satu-satunya. Satu yang kemudian tidak dapat kumiliki. Jika kemudian aku memilih untuk tetap sendiri, aku rasa tak ada salahnya. Perkara memilih bukanlah perkara mudah bagiku. Terlebih jika perihal pasangan hidup, seseorang yang sampai kau (atau dia) meninggal harus kau dampingi. Seorang yang akan selalu jadi rekanmu dalam segala hal. 

Sesungguhnya aku sendiri juga heran pada mereka yang bisa menikah hanya karena kebetulan umur mereka sudah memasuki deadline usia impian mereka untuk menikah. Atau mereka yang menikahi seseorang hanya karena kebetulan orang tersebutlah yang sedang menjadi pasangan mereka saat itu. Kata mereka, cinta bisa datang ketika terbiasa. Hal itu tidak berlaku padaku. Bukan tak pernah mencoba, beberapa kali aku mencobanya dan gagal. Lalu aku menyerah. Mungkin belajar mencintai orang yang tak kucintai sebelumnya memang bukan pelajaran yang bisa kukuasai. Sama seperti pelajaran kesenian di mana aku tak pernah berhasil.

Kembali pada nasihat untuk membuka hati untuk orang lain dan memberi kesempatan untuk mereka yang lebih baik. Memangnya apa yang salah jika aku memilih tidak melakukannya? Memangnya apa yang salah jika aku hanya ingin dia dan bukan yang lebih baik? Memangnya apa yang salah jika aku memilih sendirian setelah merelakannya? Memangnya apa yang salah jika aku merasa bahagia sendirian?

Beberapa kesempatan dalam hidup kita hanya datang sekali dan memilih sekali dalam seumur hidup itu tidak pernah mudah. Aku memilih mengejar mimpi lain dan merelakannya untuk tidak tergapai. Aku bahagia. Apakah aku salah karena merasa bahagia dengan hidupku yang tidak sama dengan orang lain? Aku bisa saja mencari aman, memilih menikahi lelaki lain yang meminangku. Tapi siapa yang bisa menjamin jika aku akan bahagia dalam pernikahanku dengan lelaki yang tak kucintai? Jika ada orang yang bisa bahagia dengan pernikahan macam itu, apa aku juga harus bisa merasakan bahagia yang sama?

Ketimbang cemas karena statusku, kenapa mereka tak mencoba ikut bahagia saat mataku berbinar ketika menceritakan hasil kerja kerasku? Kenapa tidak mencoba mendukungku meraih mimpi-mimpiku? Kenapa tidak mencoba percaya bahwa aku baik-baik saja ketika sendirian?

Mungkin, untuk mereka sulit hidup sendirian. Tapi tidak bagiku. Aku benar-benar baik-baik saja hidup sendirian. Masih tak percaya? Begini saja, biar kuberitahu apa yang bisa membuatku tak bahagia. Aku sangat tak bahagia jika hidupku diusili mereka yang merasa peduli dan dekat denganku lalu jadi merasa mengerti dan berhak mengatur seperti apa aku harus merasa bahagia. Sungguh, aku selalu kecewa ketika diperlakukan seperti itu. Jadi, bagaimana jika kau urusi saja bahagiamu dan kuurusi bahagiaku?

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Recent News