Another home sweet home

Karena tidak ada tempat senyaman rumah

Racau



Seorang menasihatiku nasihat yang sama seperti ratusan orang lain saat ia tahu aku baru saja patah hati. Ia menasihatiku untuk segera pindah, membuka hati yang baru, mencari lelaki lain yang katanya pasti akan lebih baik dari mantan kekasihku. Bahkan ketika kukatakan bahwa aku dan mantan kekasihku berpisah karena keadaan bukan karena kesalahan, ia tetap tak peduli. Katanya, aku berhak bahagia. Aku pantas mendapatkan yang lebih baik dari mantan kekasihku. Aku hanya tersenyum tipis.

Sudah puluhan bulan aku memilih sendirian. Semakin banyak mata yang memandangku kasihan ketika kukatakan bahwa aku sendirian. Katanya mereka prihatin dengan umurku. Katanya mereka sedih melihat aku yang kesepian. Katanya aku harus segera mencari pendamping hidup baru. Katanya aku harus bisa menerima kenyataan. Katanya mereka berbicara begitu karena di umurku sekarang, aku seharusnya sudah memiliki dua anak yang lucu dan menggemaskan. Aku hanya tertawa kosong.

Bukan sekali dua kali, mereka yang menganggap diri mereka mengenalku dekat, menyuruhku untuk menerima hati-hati baru. Beberapa bahkan menyuruhku untuk menikah dengan tuan ini atau tuan itu. Katanya mereka baik. Katanya mereka penyayang. Katanya mereka mapan. Katanya mereka cerdas. Katanya mereka lebih baik dari mantan kekasihku yang saat ini sudah memiliki hidup baru dengan kekasih barunya. Aku hanya tersenyum getir.

Berkali-kali sudah kukatakan pada mereka bahwa untukku pernikahan bukanlah tujuan. Kukatakan bahwa aku sangat berhati-hati dalam memilih pasangan. Lalu mereka mencibirku. Katanya aku terlalu pemilih. Katanya aku jual mahal. Katanya aku penakut. Katanya aku pengecut. Aku hanya tertawa pahit.

Kukira, orang-orang yang katanya mereka mencintaiku itu (paling tidak) tahu bahwa setiap orang bisa saja memiliki bahagia yang berbeda dengan apa yang mereka pahami. Meski pada akhirnya aku sendiri menyadari bahwa mengetahui sesuatu tidak menjamin seseorang akan mengerti dan berhenti memaksakan apa yang kebahagiaan versinya pada orang lain. Hanya karena hal itu bisa membuatnya bahagia, ia merasa hal itu juga pasti akan membuat orang lain bahagia.

Untukku, mencintainya adalah anugerah. Aku memilihnya untuk menjadi satu yang satu-satunya. Satu yang kemudian tidak dapat kumiliki. Jika kemudian aku memilih untuk tetap sendiri, aku rasa tak ada salahnya. Perkara memilih bukanlah perkara mudah bagiku. Terlebih jika perihal pasangan hidup, seseorang yang sampai kau (atau dia) meninggal harus kau dampingi. Seorang yang akan selalu jadi rekanmu dalam segala hal. 

Sesungguhnya aku sendiri juga heran pada mereka yang bisa menikah hanya karena kebetulan umur mereka sudah memasuki deadline usia impian mereka untuk menikah. Atau mereka yang menikahi seseorang hanya karena kebetulan orang tersebutlah yang sedang menjadi pasangan mereka saat itu. Kata mereka, cinta bisa datang ketika terbiasa. Hal itu tidak berlaku padaku. Bukan tak pernah mencoba, beberapa kali aku mencobanya dan gagal. Lalu aku menyerah. Mungkin belajar mencintai orang yang tak kucintai sebelumnya memang bukan pelajaran yang bisa kukuasai. Sama seperti pelajaran kesenian di mana aku tak pernah berhasil.

Kembali pada nasihat untuk membuka hati untuk orang lain dan memberi kesempatan untuk mereka yang lebih baik. Memangnya apa yang salah jika aku memilih tidak melakukannya? Memangnya apa yang salah jika aku hanya ingin dia dan bukan yang lebih baik? Memangnya apa yang salah jika aku memilih sendirian setelah merelakannya? Memangnya apa yang salah jika aku merasa bahagia sendirian?

Beberapa kesempatan dalam hidup kita hanya datang sekali dan memilih sekali dalam seumur hidup itu tidak pernah mudah. Aku memilih mengejar mimpi lain dan merelakannya untuk tidak tergapai. Aku bahagia. Apakah aku salah karena merasa bahagia dengan hidupku yang tidak sama dengan orang lain? Aku bisa saja mencari aman, memilih menikahi lelaki lain yang meminangku. Tapi siapa yang bisa menjamin jika aku akan bahagia dalam pernikahanku dengan lelaki yang tak kucintai? Jika ada orang yang bisa bahagia dengan pernikahan macam itu, apa aku juga harus bisa merasakan bahagia yang sama?

Ketimbang cemas karena statusku, kenapa mereka tak mencoba ikut bahagia saat mataku berbinar ketika menceritakan hasil kerja kerasku? Kenapa tidak mencoba mendukungku meraih mimpi-mimpiku? Kenapa tidak mencoba percaya bahwa aku baik-baik saja ketika sendirian?

Mungkin, untuk mereka sulit hidup sendirian. Tapi tidak bagiku. Aku benar-benar baik-baik saja hidup sendirian. Masih tak percaya? Begini saja, biar kuberitahu apa yang bisa membuatku tak bahagia. Aku sangat tak bahagia jika hidupku diusili mereka yang merasa peduli dan dekat denganku lalu jadi merasa mengerti dan berhak mengatur seperti apa aku harus merasa bahagia. Sungguh, aku selalu kecewa ketika diperlakukan seperti itu. Jadi, bagaimana jika kau urusi saja bahagiamu dan kuurusi bahagiaku?

Ndung-Nak



Beberapa bulan lalu, seperti yang kamu tahu aku sedikit berubah. Aku sering sekali bicara soal “Ndung-Nak” di twitter. Banyak yang berkomentar soal ini. Seperti banyak hal lain, ada yang suka, pun ada yang tidak suka. Beberapa ada yang berkomentar, “Memangnya yakin akan punya anak perempuan?” Ada juga yang menyuruhku berhenti berkhayal. 

Biar aku ceritakan padamu alasanku berbicara soal “Ndung-Nak”. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin tulisan ini akan dipedulikan karena kebanyakan orang bicara hanya karena ia bisa bicara, bukan karena ia peduli. Tapi tak apa, aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri. Sepertinya aku butuh pengingat semacam tulisan ini agar tak mudah goyah.

Sembilan belas Mei tahun ini, aku dioperasi untuk kedua kalinya karena endometriosis. Iya, kedua kalinya, operasi sebelumnya terjadi tahun 2014. Setelah operasi, diketahui kalau aku menderita endometriosis dan kista lutein dengan perdarahan. Kistaku mengalami perlengketan hebat dan sebagian tidak bisa dikeluarkan. Obgynku menyarankan agar setelah menikah aku menjalani test HSG dan menjalankan program bayi tabung untuk membantu kehamilanku nantinya.

Iya, itu latar belakang aku sering bicara tentang “Ndung-Nak” di twitter. Sekarang aku jawab pertanyaan, “Apakah aku yakin akan punya anak perempuan?” Jujur saja, selama sebulan penuh, aku terpuruk dan bahkan tidak percaya kalau aku bisa punya anak. Bahkan di beberapa minggu terakhir, aku masih suka menangisi hal ini. Program bayi tabung itu bukan sesuatu yang murah. Tapi kalau saat ini ditanyakan hal yang sama, aku akan jawab dengan yakin, “Iya, aku akan punya dua anak perempuan dengan mata bersinar dan senyum menawan”. 

Jika kamu minta aku berhenti berkhayal tentang dua anak perempuanku, dengan alasan apa pun, aku tidak bisa mengabulkannya. Membicarakan mereka adalah caraku menjaga mereka dan harapan tentang mereka tetap hidup dan memenuhi kepalaku. Iya, sesuatu yang kamu bilang khayalan itu adalah mimpi yang sedang mati-matian aku jaga tetap ada. Mudah untuk beberapa dari kamu bilang “Anak itu titipan, sabar bla bla bla.” Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu menjaga asa. Sungguh.

Aku butuh bukan sekedar support dari orang sekitar. Aku juga ternyata butuh diriku sendiri untuk percaya bahwa semua baik-baik saja. Caraku untuk percaya adalah dengan bicara tentang “Ndung-Nak”. Aku tidak meminta kamu paham, tapi jika memang tulisanku tentang “Ndung-Nak” mengganggu, aku tidak keberatan jika kamu unfollow twitterku. Kita akan tetap berteman baik setelahnya.

Ada mimpi yang sedang aku usahakan. Ada doa yang sedang aku upayakan. Aku mengupayakan ini jauh sebelum tahu kalau aku memiliki endometriosis. Aku mengusahakan ini dengan berat, melawan rasa nyeri sepanjang hari, melawan panik karena pendarahan, melawan tidak bisa tidur nyenyak setiap hari padahal esok masih harus beraktivitas, melawan mood swing, dan masih banyak lagi.  Usaha ini tidak kuupayakan sendirian. Usaha ini dilakukan keluarga dan pasanganku. Komentar-komentar tanpa simpati kamu jujur saja beberapa kali mengobrak-abrik usaha kami (khususnya aku) untuk yakin kalau mimpi-mimpi kami itu masih ada, nyata, dan dekat.

Sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak mimpiku tentang kedua anak perempuanku. Tidak bahkan jika ia adalah temanku. Setelah ini, mungkin masih akan ada yang bicara tak menyenangkan. Tak apa. Aku akan memilih menutup mata dan telinga. Mimpi-mimpiku dan Arusha jauh lebih besar dan penting untuk diusahakan.

Mungkin untuk beberapa dari kamu, twit tentang “Ndung-Nak” itu hanya twit khayalan atau iseng belaka. Tapi untukku itu adalah salah satu cara untuk mengingatkanku bahwa masih ada harapan dan usaha yang masih bisa aku lakukan. Semoga kamu bisa mengerti atau setidaknya bisa lebih bersimpati.

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik. Aku yakin kamu akan selalu jadi temanku yang baik.

Akhir

"Kamu sayang sama dia enggak sih sebenarnya, Ga?"
"Dia siapa maksud kamu?" 
"Star, jangan pura-pura enggak paham deh."
"Ya sayang lah, kan aku sama dia sahabatan. Kayak aku sama kamu."
"Aku rasa dia anggap kamu lebih, pun kamu. Kalian ke mana-mana selalu berdua, kalau kamu lagi sibuk, dia langsung ke kantor atau kosmu anter makanan. Sahabat kayaknya enggak segitu perhatiannya. Aku juga tahu kok apa yang kalian lakuin kalau tiba-tiba suara tv kamarmu jadi kenceng." Rian berkata sembari tersenyum penuh makna.
Aku hanya menjawab pertanyaan Rian dengan diam.

***


Pertanyaan Rian bukan pertama kali ditanyakan padaku. Dia juga bukan orang pertama yang menanyakan hal itu. Bahkan Star sendiri pernah secara tidak langsung bertanya hal yang sama padaku. 

"Kamu, pernah kepikiran buat pacaran sama aku enggak sih, Night (begitu ia selalu memanggilku)?" Tanyanya suatu hari seusai kami bercinta.
"Aku berpikir lama. Lama sekali.
"Teeeet! Waktumu habis! Yak, regu B?" Star memecah sepi dengan melempar canda.
Aku tertawa kecil saat itu. Hanya tertawa kecil.
Lain waktu, Star bertanya hal yang serupa, "Kamu pernah suka aku?"
"Suka lah."
"Sampai sekarang?"
"Iya lah. Mana ada yang enggak suka kamu?"
Star menanggapi jawabanku dengan memanyunkan bibir mungilnya. Seksi. 
Cemberutnya tak lama hilang dilumat bibirku perlahan. Kesalnya berganti rintihan dan lenguhan kecil.

Aku bukan tak paham arah pembicaraan Star atau Rian, atau siapa pun yang menanyakan pertanyaan serupa. Pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan jujur. Bukan karena tak mau, tapi karena aku sendiri tak tahu jawabannya.

Aku suka Star, aku rasa siapa pun suka padanya. Star adalah perempuan yang (nyaris) sempurna. Ia cantik, tentu saja. Ia adalah lawan bicara yang menyenangkan. Ia suka sekali bertanya dan mudah tertawa. Ia perempuan yang menyenangkan di mana pun, kapan pun. Harfiah.

Aku pun menyayangi Star. Rasanya tanpa kuucapkan, siapa pun tahu itu. Aku selalu ada saat Star butuh, kapan pun, saat larut malam atau pagi buta. Aku selalu ada saat Star ingin aku bersamanya. Aku selalu punya waktu luang untuknya, bahkan di antara setumpuk laporan yang harus kukerjakan. Aku menyayangi Star. Aku menyayanginya, entah sebagai apa.

Aku pun tahu jika Star menyayangiku. Ia menyayangiku lebih dari kekasih-kekasihnya, lebih dari teman-teman tidurnya yang lain. Ia menyayangiku lebih dari itu. Bukan jemawa, aku bisa melihatnya dari senyum yang tak pernah hilang setiap kali ia menatapku. Aku bisa merasakannya dari caranya memelukku erat ketika ia tertidur seusai kami bercumbu. Aku bisa mendengarnya dari suara cemasnya ketika aku sakit. Star dan kasih sayangnya yang sangat jelas.

***

"Night, aku punya pacar baru." Ucap Star setibanya di kosku.
"Kapan kamu putusnya? Kok tahu-tahu ada pacar baru?"
"Ih, udah sebulan yang lalu, Night."
Aku hanya mengangguk-angguk.
"Kamu enggak cemburu?"
Aku tertawa.
"Untuk apa? Harusnya pacar kamu yang cemburu sama aku." jawabku.
"Bener juga."
Kami tertawa lepas.

Aku dan Star tahu benar kalau jawabanku benar. Star selalu jauh memilihku dibanding lelaki-lelakinya. Siapa pun kekasihnya, hanya aku yang jadi pulangnya. Siapa pun yang dikenalkan sebagai pacarnya, hanya aku tempatnya berkeluh kesah, hanya aku tempatnya melepas lenguh dan desah. 

***

Hidup bagaikan bianglala, terus berputar dan berputar. Tidak ada yang abadi, tidak ada, baik senang atau sedih, tak ada yang abadi. Beberapa bulan setelah percakapan itu, Star tiba-tiba menghilang. Seminggu, dua minggu, hingga sebulan ia tak ada kabar. Aku mulai merindunya. Tanpa pikir panjang, aku menghubunginya. Mengejutkan, aku tak bisa menemukan ia di kontakku. Nomornya yang terakhir tersimpan di phonebook-ku pun tak lagi aktif. Aku tak tahu kapan tepatnya ia mengganti semua kontaknya. Biasanya memang selalu ia yang lebih dulu menghubungiku. 

Aku rindu. Perlahan aku sadar jika aku kehilangan dia. Apesnya, aku tak hanya kehilangan sosoknya. Aku juga kehilangan teman diskusi, kehilangan badut penghibur, bahkan kakak perempuan super cerewet yang biasanya kuusili. Aku rindu. Sangat.

Aku coba mencarinya di kampus, nihil. Aku berusaha mencarinya di sosial media. Dia masih di sana namun mengabaikanku. Aku masih bisa melihatnya memperbarui status, tapi ia tak mengindahkan pesanku. Salah satu perpisahan paling menyakitkan adalah ketika kamu masih bisa melihatnya dalam fisik yang sama namun pribadinya sudah tak lagi dapat kau kenali.

***

Rian melihatku semakin hari semakin pendiam. Ia sepertinya sadar jika sahabatnya sedang sedih. 
"Kamu kangen Star?"
Aku diam, mengangguk perlahan.
"Belagu sih, pas masih ada disia-siain, giliran ilang baru deh nyariin."
Aku diam.
"Aku enggak sia-siain dia."
"Dengan enggak memberi dia kepastian kalau kamu sayang sama dia lebih dari sahabat?"
Aku diam. Lagi.
"Mungkin buatmu cukup, asal dia tetap sama kamu, siapa pun yang ada di dekatnya selain kamu, kamu tak peduli. Mungkin buat kamu cukup, beri semua perhatian kamu buat dia. Tapi apa itu cukup buat dia tinggal dan menetap sama kamu?"
Lagi-lagi aku hanya bisa diam.
"Apa sekarang itu cukup buat kamu? Aku tahu kamu tahu kalau dia nunggu kamu meminta dia untuk tinggal dan menetap cuma sama kamu. Aku tahu kamu tahu kalau kamu minta, dia akan berhenti pindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Aku tahu kamu tahu kalau sebenarnya kamu cukup buat dia asalkan kamu minta dia."
"Kalau aku cukup buat dia, kenapa dia pergi sama yang lain?"
"Mungkin karena dia takut kalau dia enggak cukup buat kamu."
"Terus aku harus gimana?"
"Aku coba bantu cari tahu dia sekarang di mana, kamu harus temui dan bilang sama dia kalau kamu sayang dia dan enggak mau kehilangan dia."
"Apa masih bisa diperjuangkan, sepertinya dia sudah bahagia."
"Setidaknya kamu mencoba, soal siapa yang pada akhirnya dia pilih, itu murni haknya, kan? Dia bukan barang yang bisa jadi hak milik."

***

Dia di Jakarta. Lima ratus dua belas kilo meter dari kotaku. Aku baru tahu kalau dia sudah diwisuda beberapa minggu setelah kami bertemu terakhir. Ia tak berkata apa pun, atau mungkin ia bilang tapi aku tak menaruh perhatian. Seperti biasa. Kesalahan klasik ketika kita merasa telah memiliki. Tidak ma(mp)u menjaga.

Berbekal secarik kertas berisi alamat, aku mencarinya. Aku sengaja mengambil cuti untuk mencarinya, mencari pemiliki tawa yang bisa menenangkanku. Sesekali aku merutuki diriku sendiri, menyesali kebodohanku. Sepanjang jalan, aku dipenuhi cemas. Isi kepalaku penuh, kenangan dan rasa takut saling tumpang tindih.

***

Aku sampai di depan kosnya, sesaat setelah ia turun dari taksi. Kebetulan. Keberuntungan.
Aku memanggilnya. Ia menoleh. Wajahnya tampak lelah, namun lelahnya tak bisa menutupi kecantikannya. Aku semakin rindu.

Star tak bisa menutupi kagetnya. Bertahun-tahun kuliah di psikologi ternyata tak membantunya menguasai ekspresi spontan. 
"Night!" Suaranya sedikit tertahan.
Aku berjalan mendekatinya. Rasanya aku ingin berlari dan mendekapnya erat. Entah apa yang menahanku.
"Aku ke sini mau ngomong sesuatu, Star. Aku mau minta maaf."
Star menatapku tak berkedip. Matanya sedikit berkaca-kaca.
"Aku tahu aku salah, enggak bisa tegas sama kamu, enggak bisa tegas sama diriku sendiri. Aku sekarang sadar kalau aku sayang kamu, aku mau kamu.."
Belum selesai aku bicara, Star tiba-tiba menyodorkan sesuatu yang ia ambil dari tasnya, berbicara pelan, lalu terisak masuk ke dalam kosnya.
"Maaf, Night."

Kartu undangan pernikahan.

Aku terlambat.

***

Kata orang, bukan akhir namanya jika tidak bahagia. Pada akhirnya, aku rasa semua akhir memang bahagia. Masalahnya, siapa yang bahagia? Kita atau orang lain?

Jarak

And I will make sure to keep my distance
Say, "I love you," when you're not listening
And how long can we keep this up, up, up?


***

Alka Gauri Dafina. 
Nama yang cantik, secantik hati dan parasnya. Ia gadis yang bisa membuatku jatuh cinta. Berkali-kali. Iya, berkali-kali aku jatuh cinta padanya. Setiap hari, tanpa bosan. 

Aku mengenal Alka, begitu aku biasa memanggilnya, pertama kali saat masa orientasi sekolah tingkat atas. Ia saat itu begitu menarik, sederhana dan manis. Bahkan dengan kuncir 12 di atas kepalanya. Bahkan dengan tubuh penuh keringat dan wajahnya yang tanpa senyum. Ia masih sangat cantik dan menarik. Sejak saat itu, aku tidak bisa menolak keputusan hatiku untuk menjatuhkan cinta padanya.

Sejak hari itu, aku berusaha mendekatinya. Ia gadis yang ramah dan ceria. Tawanya adalah melodi paling renyah yang pernah kudengar. Ia tak pernah menyembunyikan tawanya di antara gengsi hanya karena ingin dianggap anggun. Ia lepaskan semua kebahagiaannya saat tertawa. Ia sangat tahu cara untuk membagi kegembiraan yang ia punya. Iya, dia gadis yang semenyenangkan itu.


***

Pada akhirnya kami dekat. Iya, dekat. Sebagai sahabat. Kamu mungkin tertawa sinis mendengarnya, tapi bagiku, asal di dekatnya, menjadi debu pun aku mau. 

Bukan hanya dengannya, aku pun dekat dengan Dhira, perempuan yang juga sahabatnya. Tidak seperti Alka, Dhira jauh lebih tenang dan tertutup. Kami bertiga kerap jalan bertiga di luar jam sekolah. Mereka suka menungguiku selesai latihan karate. Aku pun kerap bergabung saat mereka sedang diskusi KIR. 

Beberapa lelaki tak menyukaiku karena aku selalu dekat dengan Alka. Mereka menyebutku banci. Aku tertawa mendengarnya. Mereka pasti tak pernah merasakan jatuh cinta. Saat kamu jatuh cinta pada seseorang, kamu hanya ingin berada di dekatnya. Tak peduli kamu akan menjadi apa, kamu hanya ingin berada di dekatnya, menjaga dan memastikan ia akan selalu bahagia.  


***

Masa SMA pada akhirnya usai tanpa terasa. Aku, Alka, dan Dhira akhirnya berpisah. Cita-cita memisahkan kami. Aku melanjutkan pendidikan di teknik arsitektur di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kami, sedangkan Dhira dan Alka, masing-masing masuk jurusan psikologi dan kedokteran di universitas yang berbeda denganku.

Kami masih kerap bertemu di akhir pekan. Kadang sekedar menghabiskan waktu mengerjakan tugas bersama. Kadang saling mengunjungi rumah satu sama lain. Kami menjaga hubungan baik. Aku menjaga cintaku baik-baik.

***

"Kamu jatuh cinta pada Alka." Ucap Dhira suatu hari saat kami janjian di salah satu cafe di kota kami. Saat itu Alka datang terlambat karena masih praktikum.
"Enggak" Ujarku mengelak.
"Aku enggak bertanya, aku menyatakan."
Aku diam.
"Kenapa kamu enggak bilang sama Alka? Udah lama kan?" Tanya Dhira, akhirnya setelah lama ikut terdiam.
"Sebegitu terlihat?"
"Iya."
"Kalau begitu kenapa dia sepertinya tidak sadar dan tetap menerima lelaki lain sebagai kekasihnya?"
"Karena kamu sahabatnya dan kamu enggak pernah bilang."
"Aku takut."
"Takut ditolak?"
"Takut kehilangan dia. Takut kalau pernyataanku akan membuatnya menjauh setelah aku selama ini susah payah berusaha selalu dekat dengannya."
"Pengecut!"
Aku diam.
Dhira diam.
Kami diam sampai Alka datang.
Lalu kami bersikap seolah percakapan itu tak pernah ada.


***

Aku tak pernah punya kesempatan untuk menyatakan perasaanku. Alka adalah perempuan yang cantik yang menarik. Jika ada kata yang bisa mendefinisikannya, maka kata itu adalah sempurna. Sempurna dalam versi makhlukNya. Cantik, baik, cerdas, dan taat. Satu-satunya ketidaksempurnaan di sini hanyalah karena ia bukan kekasihku. Ia sahabatku.

Tidak heran, setiap lelaki ingin dengan dengan Alka, termasuk aku tentunya. Alka tidak pernah lama sendirian. Alka adalah perempuan yang setia. Lelaki yang bersama Alka juga bukan tipe lelaki brengsek (sialnya), Alka tak pernah disia-siakan. Meski tak jarang dari mereka mencemburuiku yang dekat dengan Alka. Syukurnya, Alka tak pernah absen membelaku. Syukurnya, itu tidak menjadi alasan mereka untuk menyakiti Alka. Karena jika iya, aku tidak akan segan menghajar mereka. Sesuatu yang selalu ingin kulakukan jika Alka mengenalkan kekasihnya padaku.

***

 "Kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaanmu pada Alka?" Tanya Dhira sambil menyuap gelato ke mulut mungilnya.
"Dhira, aku tak ingin kehilangan Alka. tidakkah cukup aku menunjukkan cintaku selama ini dengan apa yang aku lakukan padanya?"
"Kamu lucu. Bukankah kehilangan adalah salah satu fase hidup yang tidak bisa kau hindari? Lagipula, kenapa kamu sangat takut dia menolakmu atau menjauh? Bagaimana jika dia juga menyukaimu tapi sepertimu, ia juga tak berani mengungkapkannya?"
Aku diam.
"Selama ijab kabul masih harus diucapkan, cinta masih harus ditunjukkan dengan kata-kata, Caraka."
Aku masih diam.
"Cepat atau lambat kamu akan kehilangan dia. Masalahnya, apa kamu siap jika akhirnya kamu kehilangan dia karena dia memilih orang lain yang memilihnya hanya karena kamu takut untuk memilihnya?"
"Tapi, dia saat ini memiliki kekasih, Dhira. Lelaki yang baik tidak akan mengambil sesuatu milik orang lain."
"Alka bukan barang yang bisa kau ambil atau rebut. Ia bukan istri orang. Jika ia memilihmu pada akhirnya, itu karena ia secara sadar menganggapmu sebagai calon imam yang kompeten. Rasanya itu sah saja, karena perempuan pun punya hak untuk memilih siapa yang kelak ingin ia dampingi seumur hidup."
Aku kembali diam.
Dhira kembali menyuapkan gelato ke mulutnya.

***

Aku rasa, Dhira ada benarnya. Setelah beberapa bulan berpikir, menimbang, dan mengumpulkan keberanian akhirnya aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku. Peduli setan ia masih berpacaran dengan Bayu. Aku ingin Alka tahu aku mencintainya. Aku siap dengan segala risikonya.

Aku sengaja meminta Dhira untuk datang terlambat. Dhira setuju. Aku sengaja datang lebih cepat ke cafe tempat kami janjian. Aku menyiapkan diriku. Aku mengumpulkan semua keberanianku. Aku mengumpulkan semua doa dan harapanku.

Alka akhirnya datang. Ia berjalan dengan langkah kecil yang riang. Rok mini kembang-kembang yang ia kenakan sedikit melambai terkena angin. Aku menatapnya sambil tersenyum. Ia cantik. Cantik sekali. Gadis yang kucintai 9 tahun ini, cantik sekali.

***

"Raka!"
Aku melambaikan tangan.
Alka duduk di sampingku.
"Dhira belum dateng ya? Ya udah, aku kasih tahu kamu duluan aja deh."
"Kasih tahu apa?" Dahiku berkerut.
Alka menyodorkan sesuatu.
"Aku mau menikah dengan Bayu dua minggu lagi. Ini undangan tamu VIP yang Bayu desain sendiri. Undangan lainnya baru jadi minggu depan. Maaf ya aku enggak cerita soal lamaran dua bulan lalu, aku pengen bikin surprise buat kalian. Gimana kaget kan?" Alka bicara sambil tersenyum lebar.
Aku diam. Aku diam lama sekali.


***


"Pada akhirnya, kamu tetap akan kehilangan dia. Kamu tak ingin ia menjauh darimu dengan menjaganya sebagai sahabatmu. Kini justru keadaan yang memaksamu menjauh karena dia sudah jadi istri orang lain. Sekarang, kamu menyesal?" Tanya Dhira dengan suara pelan seakan tak perlu jawaban.
Aku diam.

Aku hanya bisa diam.


About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Recent News